Strategi Memilih Bid di Facebook Ads

Apa itu biding ?

Facebook sebagai platform untuk beriklan menggunakan sistem lelang (auction) untuk menentukan iklan mana yang akan ditayangkan ke pengguna di Facebook. Kenapa begitu ? Sebagai pengguna Facebook tentunya kita tidak ingin terlalu banyak iklan yang ditampilkan di beranda kita kan ? Pasti akan merasa terganggu kalau terlalu banyak iklan yang muncul.

Facebook akan menentukan iklan mana yang akan ditampilkan berdasarkan banyak hal diantaranya adalah kualitas iklan, relevansi, dan yang cukup berpengaruh adalah seberapa besar bid yang ditentukan oleh pengiklan (advertiser).

Jenis-jenis bid di FB ads

Perlu dipahami bahwa bid itu tidak sama dengan cost atau harga yang akan kita dapatkan ya. Misalnya bid kita setting di angka 20.000 maka itu tidak berarti kita akan mendapatkan hasil 20.000 juga. Biasanya lebih murah dari itu.

Salah satu tujuan menggunakan strategi bidding adalah agar kita bisa mengkontol performa iklan yang kita jalankan. Saat postingan ini saya tulis,kita bisa menggunakan 4 jenis tipe bid :

1. Lowest Cost
2. Cost Cap
3. Bid Cap
4. Target Cost

Supaya lebih mudah dipahami, saya berikan contoh untuk objective campaign conversion dengan
optimasi event “lead”. Goal kita adalah untuk mendaptkan Cost Per Result (CPR) sesuai yang kita inginkan.

1. lowest cost

Ini adalah tipe bid default dari Facebook. Dulu namanya automatic bid.

Ini seolah-olah kita minta ke FB : ” Hei FB..saya punya budget 200.000 per hari, tolong
carikan lead yang sebanyak banyaknya dengan CPR semurah-murahnya yang kamu bisa
ya..pokoknya habiskan aja budgetnya ”

Artinya, kita memberikan kebebasan kepada FB untuk menentukan besarnya bid pada iklan
kita. Dan FB akan berusaha sebisa mungkin mencari yang semurah-murahnya (lowest cost)

# Kelebihan :

– Mudah karena memang defaultnya dari FB
– Budget bisa habis semuanya sehingga potensi lead yang masuk bisa banyak
– Bisa kita gunakan untuk memulai campaign supaya tahu kira-kira berapa bid yang
“pantas” kita gunakan di campaign berikutnya (jika kita mau menggunakan strategi bidding
yang lain nantinya)

# kekurangan

– Cost tidak bisa kita kontrol, terkadang CPR murah lalu bisa menjadi mahal (tergantung
persaingan sesama pengiklan)
– Ketika budget dinaikkan kecenderungannya CPR juga akan naik.

2. Cost cap 

Ini seolah-olah kita minta ke FB :
“hei FB..saya ada budget 200.000 per hari, tolong carikan orang -orang yang mau isi form dengan CPR paling mahal 10.000 per lead ya ?

# kelebihan

– CPR lebih bisa kita kontrol. Misal kita tentukan cost cap di angka 12.000 maka FB akan berusaha untuk mencarikan audience yang bisa menghasilkan CPR paling mahal Rp 12.000
– Bisa mendapatkan hasil yang murah jika FB menemukannya tanpa harus mengubah bid.

# kekurangan

– Ketika budget dinaikkan kecenderungannya CPR juga akan naik tetapi FB akan berusaha sebisa mungkin di bawah harga yang kita tetapkan
– Perlu waktu dalam masa “learning phase”, biasanya sedikit lebih lama
– Budget biasanya tidak habis ketika sudah mencapai batasnya

3. Target cost 

Ini seolah-olah kita minta ke FB :
” hei FB saya ada budget 200.000 per hari nih, tolong carikan orang-orang yang mau isi
form dengan CPR sekitar 10.000 per lead ya ?

# kelebihan

– Paling stabil diantara strategi bidding yang lainnya meskipun budget kita naikkan

# Kekurangan

– budget kemungkinan tidak habis
– kehilangan kesempatan mendapatkan hasil yang murah

4. Bid cap 

Ini seolah-olah kita minta FB :
” hei FB saya ada budget 200.000 per hari nih…tolong carikan lead sebanyak banyaknya
dengan bid tidak melebihi 17.000 ya…”

Perlu diingat bahwa : bid tidak sama dengan harga (cost). Jadi misal kita masukkan bid 17.000, CPR nya bisa jauh lebih kurang dari 17.000, misalnya 16.000 atau bahkan 12.000.

# kelebihan

-Dengan bid yang tepat bisa untuk bersaing dengan pengiklan lain yang kompetisinya cukup tinggi

# Kekurangan

-kurang cocok untuk pemula, perlu waktu untuk menentukan bid yang sesuai di setiap campaign

– biasanya budget tidak sampai habis

Lalu kira-kira tipe bid mana yang sesuai dan kapan digunakan ?

Sederhananya seperti ini :

  • Kalau ingin performa iklan yang stabil gunakan : Target Cost
  • Kalau ingin “main aman” gunakan : Cost Cap
  • Kalau persaingan audience yang kita target cukup tinggi gunakan : Manual bid (Bid Cap), naikkan bidnya
  • Kalau masih meraba-raba atau baru awal menjalankan campaign gunakan : Automatic Bid (Lowest Cost)
Perbedaan bid cap, cost cap, dan target cost
*Perbedaan bid cap, cost cap, dan target cost

Perlu dipahami juga, dari 4 tipe bid di atas hanya “Bid Cap” yang bisa kita atur bid nya. Ini yang biasanya disebut sebagai manual bidding. Untuk Target Cost dan Cost Cap kita bisa menentukan di level harga (cost), lebih mudah dipahami.

PS : Strategi yang paling sering saya gunakan :

  1. Saya akan menggunakan “lowest cost” terlebih dahulu untuk mengetahui bid yang pantas berapa. Misalnya setelah iklan jalan 3 hari mendapatkan CPR 14.000
  2. Lalu duplicate campaign “lowest cost” tersebut lalu  ganti dengan “cost cap” sebesar 14.000. Saya akan menaikkan cost cap di angka 15.000 atau lebih jika campaign masih “tidak jalan” (reach sedikit)
  3. Kalau dirasa persaingan sudah berat, gunakan bid cap
  4. Kalau ingin di scale up besar-besaran bisa menggunakan target cost (stabil) atau cost cap

Ini sebenarnya hanya masalah “style” karena tiap pengiklan punya style yang berbeda beda. Tidak ada yang salah tidak ada yang benar. Saran saya test sendiri saja supaya tahu mana yang works mana yang tidak, lalu temukan sendiri polanya. Sipp ..

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *